-->

23/02/2021

Blusukan di Jatinegara, Mensos Risma Bertemu Pemulung Mengaku Asal Wonokromo


Bicaraindonesia.id - Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini kembali melakukan blusukan saat berangkat dari rumah dinasnya di sekitar Senayan menuju Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta Pusat, Selasa (23/2/2021) pagi.

Dengan memakai batik oranye dan kerudung merah, Mensos Risma berkeliling dari Jakarta Selatan hingga Jakarta Timur, sekitaran Jalan Jatinegara. Saat melintas di Jalan Raya Jatinegara Barat, rombongan Mensos Risma tiba-tiba berhenti, karena melihat sekolompok pemulung yang membawa seorang anak berada di trotoar.

Mantan Wali Kota Surabaya itu langsung turun dari mobil dan menghampiri untuk mengajak mereka ikut ke Balai Rehabilitasi Sosial milik Kemensos RI. Diketahui kelompok pemulung itu berasal dari Garut Jawa Barat dan sudah setahun, mereka berada di ibu kota Jakarta.

“Bapak Ikut saya ya, ke balai. Nanti Bapak-bapak saya carikan pekerjaan. Anaknya nanti bisa nerusin sekolah,” kata Mensos Risma kepada kelompok pemulung tersebut.

Mendapat tawaran tersebut, para kelompok pemulung itu tak berfikir panjang dan langsung bersedia ikut Mensos Risma ke Balai. “Nanti sebelum ke Balai, kita makan dulu ya pak di kantor Kemensos. Di sana (Balai,red) Bapak bisa tinggal sambil bekerja. Kalau belum ada (pekerjaan, red), saya coba carikan nanti,” ujar Mensos Risma.

Tak jauh dari lokasi kelompok Pemulung tersebut, mobil rombongan Kemensos ini kembali berhenti untuk menghampiri sepasang suami istri (Pasutri) yang berprofesi pemulung. Menariknya, Pasutri ini mengaku berasal dari Wonokromo Surabaya, Jawa Timur, dan telah sebelas tahun tinggal di Jakarta.

“Saiki pinginmu opo? (Sekarang mau mu apa?). Kowe pingin muleh? (Kamu ingin pulang?). Kalau muleh neng Suroboyo engkok tak golekno gawean dan rumah susun (Kalau balik ke Surabaya nanti saya carikan pekerjaan dan tempat tinggal di Rusun,red),” tanya Mensos Risma.

Namun, saat ditanya KTP (Kartu Tanda Penduduk) Mensos Risma pun kaget. Sebab, di KTP Pasutri ini tercatat sebagai warga DKI Jakarta.

“Lo tapi KTP-mu DKI ya. Jadi kamu wong Jakarta. (Jadi kamu orang Jakarta). Wes sekarang melu aku ae (Jadi sekarang ikut aku saja, red) ke Balai, istrimu diajak juga. Engkuk tak gawakno iki Godomu (Nanti tak bawakan ini gerobakmu, red). Sekarang ikut ke kantor dulu makan,” kata Risma yang langsung dituruti ajakannya tersebut.

Diketahui, Pasutri Pemulung yang mengaku berasal dari Wonokromo, Surabaya Jawa Timur itu, bernama Muhammad Nasir (suami) dan Ani (istri). “Saya mau ikut untuk merubah nasib, tapi saya mikirin gerobak saya,” kata Nasir.

Sementara itu, Yakub, salah satu kelompok pemulung asal Garut, menyatakan bersedia ikut ke Balai Rehabilitasi sosial. “Senang ketemu Bu Risma. Saya mau ikut ke balai, karena saya di Jakarta baru satu tahun bareng-bareng satu kampung dan anak saya. Anak saya ingin sekolah di pesantren,” jelasnya. (A1)


04/01/2021

Temui Tuna Wisma, Mensos Risma Tawarkan Tempat Tinggal hingga Bantu Pulangkan ke Daerah Asal


Bicaraindonesia.id - Di awal tahun 2021 ini, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini kembali blusukan di Jakarta, Senin (4/1/2021) pagi. Dalam blusukan kali ini, Risma menjumpai beberapa PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) yang tidak memiliki tempat tinggal di Jakarta.

Pertama, saat melintas di kawasan Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, Risma menemui dua orang PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) yang sedang duduk-duduk di antara pedestrian jalan. Risma pun langsung berhenti dan menghampiri keduanya untuk mengajak berdialog.

Kedua PMKS itu diketahui bernama Yanto dan Fitra. Yanto mengaku tinggal di kawasan Ulujami, Pesanggrahan Jakarta Selatan dan bekerja sebagai pedagang masker keliling. Sementara Fitra, mengaku tidak memiliki tempat tinggal dan sehari-hari bekerja sebagai pemulung.

"Ibu (Fitra, red) alamatnya di mana? rumahnya mana Ibu, asalnya mana?," tanya Risma kepada Fitra.

Tuna wisma yang menderita sakit kusta tersebut mengaku tidak mempunyai rumah dan hanya menggelengkan kepalanya saat ditanya Risma daerah asalnya.

Risma pun langsung menginstruksi staf Kemensos (Kementerian Sosial) yang mendampinginya supaya mendata warga tersebut agar segera diberikan intervensi berupa tempat tinggal, pengobatan, makanan dan pakaian yang layak.

Setelah berdialog dengan kedua PMKS itu, mantan Wali Kota Surabaya ini kembali melanjutkan blusukannya ke kawasan Jalan Pintu Air Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di sana, ia kembali turun dari kendaraannya karena melihat seorang lansia yang sedang tidur di emperan toko.

Sontak, Risma langsung menghampirinya dan berdialog dengan lansia yang mengaku bernama Kasdubi ini. Karena pria ini mengaku tidak memiliki tempat tinggal, akhirnya Risma menawarkan Kasdubi supaya tinggal di Balai Bekasi.

"Bapak saya carikan rumah ya, nanti ada tempat biar Bapak bisa tidur nyaman ndak kehujanan, biar bisa makan," ujar Risma kepada tuna wisma itu.

Selain menawarkan tempat tinggal yang layak, Risma juga memberikan masker kepada tuna wisma itu karena masker yang dipakainya terlihat sudah usang.

"Bapak jangan pergi ya, nanti ada yang jemput Bapak. Nanti Bapak bisa cari uang normal, saya bantu ya," pesan Risma kepada Kasdubi.

Di tempat yang sama, Mensos Risma rupanya kembali menjumpai seorang tuna wisma. Namun, kali ini PMKS yang mengaku bernama Faisol dan berasal dari Kabupaten Asahan, Sumatera Utara itu berharap dapat dibantu pulang ke daerah asalnya. "Kalau bisa saya dibantu pulang," kata Faisol.

Alhasil, Risma langsung menginstruksikan jajarannya agar membantu kepulangan Faisol ke daerah asalnya di Pulau Sumatera.

"Saya bantu pulang ya pak. Tapi ikut saya ke kantor (Kemensos) dulu ya pak, nanti saya bantu pulangkan," kata Risma.

Menariknya, setelah berdialog dengan Kasdubi dan Faisol, Mensos Risma pun mengajak kedua PMKS ini untuk makan sebelum menuju ke Kantor Kemensos. (A1)

02/01/2021

Hindari Penyelewengan, Mensos Risma Siapkan Laporan Bagi Penerima Bansos


Bicaraindonesia.id - Menteri Sosial Tri Rismaharini menyatakan tengah menyiapkan mekanisme pelaporan yang lebih detail dari penerima bantuan sosial (bansos). Ini diharapkan dapat menghindari adanya pemotongan atau penyelewengan bantuan.

“Jadi bukan hanya kami memberikan bantuan tapi ada pelaporan juga untuk penerima bantuan. Sehingga kami harapkan tidak ada lagi yang berusaha memotong karena laporan-laporan itu akan masuk di kami di dalam proses setiap penerimaan bantuan kepada para penerima bantuan,” kata Risma saat memberikan keterangan pers, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (29/12/2020) lalu.

Menurut Risma, mekanisme tersebut, akan dimulai pada bulan Februari 2021. Sementara pemberian bantuan sendiri akan dilaksanakan mulai bulan Januari.

“Untuk sembako, nanti akan kita adakan. Karena Januari harus segera (dimulai), maka pada bulan Februari ada mekanisme yang akan kita perbarui yang lebih mudah namun kita lebih detail untuk melakukannya,” ujarnya.

Mensos mengungkapkan, bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan agar program bansos mulai disalurkan pada awal Januari 2021.

“Sesuai dengan instruksi Bapak Presiden bahwa minggu pertama bulan Januari bantuan ini sudah bisa diberikan kepada penerima manfaat bantuan. Karena itu akan membantu perekonomian di daerah supaya tidak turun,” ujar dia.

Terkait dengan hal tersebut, Risma mengaku, bahwa Pemerintah tengah merampungkan data mengenai bansos dan saat ini sudah hampir final.

“Kenapa hampir? Karena kita akan mengembalikan (datanya) hari ini ke daerah dan itu harus kembali ke Pemerintah Pusat tanggal 1 Januari,” jelas Risma.

Mengenai target penerima bantuan tahun 2021, untuk BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) adalah 18,8 juta penerima manfaat, masing-masing sebesar Rp200 ribu per bulan yang akan diberikan mulai Januari sampai dengan Desember.

Untuk Program Keluarga Harapan (PKH), targetnya adalah 10 juta penerima manfaat dan penyalurannya akan dilakukan oleh bank himbara (himpunan bank-bank pemerintah).

“Penggunaannya adalah untuk ibu hamil, kemudian anak usia dini, kemudian anak sekolah, kemudian penyandang disabilitas, dan kemudian lanjut usia. Ini akan diberikan mulai bulan Januari, selama tiap 3 bulan sekali. Tahap pertama Januari, tahap kedua bulan April, tahap ketiga bulan Juli, dan tahap keempat bulan Oktober,” terang Risma.

Sementara, Bantuan Sosial Tunai (BST) ditargetkan akan diterima oleh 10 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia, termasuk dari Jabodetabek yang penyalurannya akan dilakukan oleh PT Pos Indonesia. Indeks bantuan per bulannya adalah Rp300 ribu per penerima manfaat yang akan diberikan selama empat bulan dari Januari sampai April.

“PT. Pos akan menyalurkannya kurang lebih mulai tanggal 4 Januari. Kita berharap satu minggu itu bisa kelar di seluruh Indonesia tapi memang ada yang khusus seperti di Papua yang mungkin mekanismenya sangat berbeda,” kata Risma.

Mantan Wali Kota Surabaya ini menegaskan, pihaknya akan membuat edaran dan memantau penggunaan bansos tersebut.

“Kami akan pantau karena insyaallah bulan Februari kami sudah akan menyiapkan tools/alat untuk kami akan mengetahui uang itu dibelanjakan untuk apa saja,” tegasnya.

Karenanya, Risma juga mengingatkan masyarakat agar dana bansos tidak digunakan untuk pembelian rokok. Jika terjadi, maka pihaknya akan melakukan evaluasi untuk penerima bantuan.

“Instruksi Bapak Presiden adalah tidak ada penggunaan untuk pembelian rokok. Sekali lagi, jangan sampai bantuan ini untuk kesehatan namun kemudian ada masalah karena digunakan untuk (membeli) rokok,” pungkasnya. (Setkab / A1)


08/10/2020

Mensos Puji Penanganan Bansos di Kota Surabaya


Bicaraindonesia.id - Menteri Sosial (Mensos), Juliari P. Batubara memuji penanganan bantuan sosial (bansos) yang ada di Kota Surabaya. Sebab penyaluran bansos di ibu kota provinsi Jawa Timur itu, selama ini dapat berjalan lancar.





Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Mensos saat bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melaunching secara simbolis Bantuan Sosial Beras (BSB) di kantor Kecamatan Gayungan Surabaya, Rabu (7/10/2020).





"Kita harapkan akhir bulan ini bisa disalurkan semua. Apa yang kita lakukan hari ini merupakan bentuk kepedulian Negara, pemerintah, terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia," kata Mensos.





Namun demikian, Mensos juga berharap, tidak ada KPM (Keluarga Penerima Manfaat) PKH (Program Keluarga Harapan) yang menunggu datangnya bansos ini. Jika memang bansos ini sudah siap, agar dapat segera dibagikan.





"Sehingga saya meminta dengan sangat, pada teman-teman daerah, sudah siap disalurkan, sehingga warga tidak menunggu beras ini," pesan dia.





Saat ia bertemu dengan Wali Kota Risma, Menteri Juliari juga memberikan sanjungan kepada perempuan pertama yang menjadi Wali Kota di Surabaya itu. "Bisa dibilang Wali Kota Risma itu top 3 kepala daerah yang terbaik," kata Juliari.





Menurut Mensos, di tengah pandemi Covid-19, banyak pemerintah daerah yang menggantungkan semua bantuan ke pemerintah pusat. Namun, hal itu justru berbeda dengan Kota Surabaya.





"Jadi tidak sedikit-sedikit urusan ke pemerintah pusat. Bisa ditanggung sendiri, bisa dihandle sendiri dengan segala sumber daya yang dimiliki Kota Surabaya," ungkap dia.





Akan tetapi, kata Mensos, untuk menjadi kepala daerah yang berhasil dan sukses seperti Wali Kota Risma ini, tidak bisa dalam semalam langsung jadi. Sebab, hal ini tentu membutuhkan proses yang panjang.





"Kesuksesan Wali Kota Risma ini dapat menjadi inspirasi bagi kepala daerah lain," kata dia.





Sementara itu, Direktur DNR Logistik, sebagai transporter bansos, Jerry Tengker menjelaskan, dalam penyaluran ini pihaknya tetap dikawal oleh tim pendamping PKH. Untuk penyerahannya sendiri, DNR akan membagikan bantuan ke seluruh Jawa Timur.





"Kita menyalurkan dengan tim pendampingan dari PKH. Seluruh Jawa Timur totalnya 1,7 Juta, kalau Kota Surabaya 114.000," kata Jerry.





Pihaknya menargetkan, bansos akan tersebar, sebelum berakhirnya Bulan Oktober. "Kita targetkan penyebaran ini sebelum tanggal 30 November 2020," pungkasnya.










Laporan: A1


24/09/2020

Melihat Keseruan Wali Kota Risma saat Panen Raya di Lahan BTKD


Bicaraindonesia.id - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama jajarannya panen raya Ketela Rambat Madu, Ketela Pohon, hingga ikan Lele di lahan bekas tanah kas desa (BTKD) Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya, Rabu (23/9/2020).





Saat itu, ia terlihat mencabut satu persatu Ketela Rambat Madu dan sesekali dibantu langsung oleh petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya.





Ia pun sempat kaget ketika mencabut Ketela Rambat Madu itu karena ternyata cukup besar. Bahkan, ia sempat mengaku tidak pernah melihat Ketela Rambat Madu sebesar itu.





"Wah, gede-gede yo, gede ngene ki. Enak iki. Ayo dipanen kabeh (wah, besar-besar ya, besar ini. Enak ini. Ayo dipanen semuanya),” kata Wali Kota Risma.





Setelah banyak memanen Ketela Rambat yang besar-besar itu, ia kemudian memanen Ketela Pohon hingga Lele. Ia nampak sangat gembira saat panen raya kala itu.





Di tengah asyiknya panen raya, Wali Kota Risma juga menyempatkan diri menyapa warga sekitar beserta anak-anak yang ikut hadir kala itu. Bahkan, ia juga sempat mengobarkan semangat anak-anak itu beserta warga sekitar. Anak-anak itu pun diberi buku spesial yang ada tandatangan Wali Kota Risma.





Wali Kota Risma mengatakan, bahwa lahan BTKD Kelurahan Jeruk ini luasnya sekitar 7,6 hektar. Di lahan ini, banyak tanaman dan buah-buahan se-nusantara yang ditanam. Termasuk pula tanaman langka seperti pohon dewandaru dan beberapa tanaman lainnya.





“Jadi, ini nanti akan kita jadikan pusat Agrowisata disamping tempat pembelajaran warga kalau ingin belajar menanam yang benar. Makanya di tempat ini juga ada waduk yang diberi bibit lele, ada pula lahan untuk menanam padi dan jagung serta tanaman pangan lainnya. Jadi, ini memang menjadi salah satu tempat percontohan ketahanan pangan di Surabaya,” kata di sela kegiatan panen raya itu.





Presiden UCLG ASPAC ini juga menyatakan, terus gencar melakukan penanaman tanaman pangan ini. Sebab, dia khawatir jika nantinya tidak bisa impor beras dari luar sehingga diharapkan bisa swadaya pangan sendiri. Surabaya pun telah membuktikan diri bahwa sebenarnya bisa swadaya pangan sendiri dengan menanam berbagai tanaman pangan ini.





“Kita menanam tanaman pangan semacam ini di 24 lokasi. Waktu panennya pun diatur berbeda-beda. Ada yang jangka waktu panennya 3 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan bahkan setahun atau lebih. Dengan panen yang bergantian ini, maka sebenarnya kita tidak perlu khawatir akan kekurangan pangan,” sebut dia.





Di tempat yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Yuniarto Herlambang menyatakan, pihaknya terus gencar melakukan penanaman berbagai bahan pangan di 24 lokasi, jenisnya pun bermacam-macam. Khusus di BTKD Kelurahan Jeruk ini, ia mengaku masih menggarap sekitar sepertiganya dari luas lahan 7,6 hektar.





“Sedangkan dua pertiganya yang masih berbentuk sawah, digarap oleh kelompok tani yang berjumlah 40 orang, dan semuanya warga sekitar Kelurahan Jeruk. Kelompok tani ini kita beri benih dan kita control dan awasi dari awal hingga akhir, termasuk ketika ada persoalan, kita diskusikan juga, seperti kemarinnya ada yang kena hama, kita selesaikan bersama-sama,” kata Herlambang.





Selain itu pula, Herlambang menyebut, lahan luas itu akan terus dikembangkan pengelolaannya. Apalagi saat ini Dinas PU Bina Marga dan Pematusan terus meletakkan tanah urugnya di lahan BTKD Kelurahan Jeruk. Sehingga, ini sangat membantu DKPP dalam mengembangkan lahan yang nantinya akan dibuat Agrowisata itu.





“Jadi, ke depannya ini akan terus kita kembangkan, karena ini percontohan juga, apalagi Bu Wali tadi sudah menyampaikan bahwa ini akan dijadikan Agrowisata, sehingga nanti kita juga kembangkan ternak di sini," ungkap dia.





Nantinya, kambing, hingga ayam petelor bakal dikembangkan di sini. Sementara untuk hasilnya nanti, akan diberikan kepada warga yang membutuhkan.





"Seperti panen Ketela Rambat Madu dan Ketela Pohon ini nanti akan diberikan kepada warga yang kurang mampu, karena ini memang untuk ketahanan pangan di Surabaya,” pungkasnya.










Source: Pemkot Surabaya
Editorial: A1


19/09/2020

Labkesda Surabaya, Bukti Keseriusan Pemerintah Tangani Covid-19


Bicaraindonesia.id - Keseriusan penanganan Covid-19 terus ditunjukkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Terbaru, pemkot meresmikan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Jalan Gayungsari no 124, Surabaya. Ini menjadi bukti keseriusan dan rasa sayang Pemkot Surabaya kepada warganya.





Saat meresmikan Labkesda itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini nampak sangat gembira. Kegelisahannya selama ini untuk melakukan testing sebanyak-banyaknya demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19, perlahan mulai teratasi dengan hadirnya Labkesda itu. Dengan kerja keras dan perjuangannya, akhirnya laboratorium kebanggan Surabaya itu diresmikan pada Selasa (15/9/2020).





Jauh hari sebelum Labkesda itu diresmikan, ia mengaku berkali-kali meninjau laboratorium tersebut untuk mengecek keamanan gedung berikut perbaikannya. Sebab, dia tidak mau ketika membuat sesuatu ada kesalahan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.





“Makanya saya berkali-kali memonitor pembangunan ini. Mungkin hanya kita saja yang punya laboratorium seperti ini untuk tingkat kota dan kabupaten, karena biasanya laboratorium seperti ini ada di tingkat provinsi,” kata Wali Kota Risma.





Menurutnya, laboratorium ini akan menjadi tempat tes swab gratis bagi warga Kota Surabaya yang sering ke luar kota, seperti para sopir dan pengusaha yang sering ke luar kota dan terkadang pulangnya ke Surabaya malam-malam. Makanya, Wali Kota Risma berharap mereka itu bisa mampir dulu ke Labkesda sebelum pulang ke rumahnya masing-masing.





“Karena ini buka 24 jam, mereka itu kami sarankan untuk swab dulu di sini. Ini tujuannya untuk mempreseve warga Surabaya. Supaya ketika pulang ke rumahnya, sudah dalam kondisi aman, kasihan nanti keluarganya kalau tertular,” kata dia.





Ia juga memastikan bahwa saat ini jajaran Pemkot Surabaya sedang menyiapkan sistem supaya warga Surabaya yang ingin tes swab di Labkesda, bisa langsung nyambung dengan data kependudukan, sehingga tidak perlu lagi menyetorkan KTP. Kemungkinan, sistem itu nanti pakai kamera yang dapat mengidentifikasi identitas warga dan langsung terkoneksi dengan data kependudukan Surabaya.





“Pokoknya warga Surabaya, tanpa syarat apapun. Kita masih siapkan sistem supaya nanti tidak perlu pakai KTP juga,” tegasnya.





Selain itu, bagi warga luar Surabaya atau bukan KTP Surabaya, maka juga bisa tes swab di Labkesda tersebut, namun dikenakan biaya sebesar Rp 125 ribu. Pengenaan denda ini sesuai Perda untuk biaya pemeriksaan. “Meskipun peralatannya kami diberi BNPB dan swasta, tapi dalam Perda kami ada ketentuan biaya Rp 125 ribu itu. Saya kira itu sudah sangat murah sekali,” imbuhnya.





Presiden UCLG ASPAC ini juga menjelaskan bahwa laboratorium itu dapat memeriksa sekitar 2.000-4.000 sampel setiap harinya. Kemudian untuk hasilnya, bisa diketahui 2-3 hari. Namun, khusus warga Kota Surabaya seperti para sopir atau pengusaha yang bolak-balik ke luar kota, maka akan difasilitasi tes swab gratis dan cepat. Bahkan, hasilnya bisa ditunggu karena hanya membutuhkan waktu 1 jam atau 1,5 jam.





“Bagi mereka itu, nanti hasilnya bisa ditunggu. Nah, kalau hasilnya negatif silahkan pulang dengan tenang dan aman. Tapi kalau hasilnya positif, saran saya langsung ke Hotel Asrama Haji untuk melakukan isolasi. Apalagi di sana sudah ada dokternya, dan kalau ada komorbidnya akan langsung dibawa ke rumah sakit, tapi kalau tanpa gejala bisa di Asrama Haji itu,” tegasnya.





Oleh karena itu, Wali Kota Risma berharap kepada warga Kota Surabaya bisa mengetahui informasi ini dan bisa memanfaatkan laboratorium ini. Menurutnya, lebih baik mencegah penularan virus ini daripada harus mengobati orang yang sudah terkena virus ini.





“Saya berharap laboratorium ini bisa mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus ini. Mudah-mudahan ini bisa bermanfaatkan untuk siapa saja. Dengan adanya laboratorium ini, diharapkan penyakitnya tidak nambah, tapi diharapkan akan semakin turun,” imbuhnya.





Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan warga Surabaya yang melakukan perjalanan ke luar kota, diharapkan untuk mampir dulu ke Labkesda sebelum pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan bagi warga luar Surabaya dan hendak menginap selama tiga hari di Surabaya, baik itu menginap di hotel, kos maupun apartemen, atau bahkan menginap di rumah saudaranya, maka diwajibkan untuk datang ke Labkesda demi melakukan tes swab dengan membayar biaya Rp 125 ribu.





“Syaratnya, kalau itu menginap di hotel maka harus menunjukkan KTP dan bukti reservasi hotel, dan kalau menginap di rumah saudara atau kos, termasuk para pelajar dan mahasiswa, maka harus menunjukkan KTP dan surat domisili yang dikeluarkan oleh RT/RW atau kelurahan setempat, karena nanti yang mengawasi para RT/RW dan kelurahan serta kecamatan,” kata dia.





Menurut Feny, program ini diberlakukan di Kota Surabaya karena Wali Kota Risma tidak ingin ada lonjakan kasus dan peningkatan kematian di Kota Pahlawan. Apalagi jika melihat di beberapa daerah, kasusnya masih melonjak tinggi. Selain itu, kalau dilihat dari hasil tracing teman-teman puskesmas, ternyata warga Surabaya yang tertular itu karena baru pualng dari luar kota.





Ia mencontohkan beberapa waktu lalu ada tiga orang sekeluarga yang positif setelah pulang dari silaturrahmi ke keluarganya di luar kota, yang ternyata daerah tersebut masih zona merah. “Makanya Bu Wali meminta warga untuk tes swab bagi warga yang baru pulang dari luar kota,” kata dia.





Di samping itu, ia menjelaskan bahwa jam pelayanan tes swab di Labkesda 24 jam. Namun, jika masih jam kerja, dianjurkan untuk melakukan tes swab ke puskesmas terdekat. Selain itu, bisa pula ke Gelora Pancasila yang rutin melakukan tes swab setiap harinya.





“Sengaja kami bagi supaya tidak menumpuk di satu tempat. Jadi, kalau jam kerja bisa ke puskesmas dan ada pula di Gelora Pancasila. Tapi kalau di luar jam kerja atau bahkan malam-malam, bisa langsung ke Labkesda,” pungkasnya.










Laporan: R1


13/09/2020

Hingga Dini Hari, Dua Srikandi Surabaya Pimpin Langsung Rapid Test Massal di Bawah Jembatan Suramadu


Bicaraindonesia.id - Dua Srikandi Kota Pahlawan memimpin langsung jalannya rapid test massal yang berlangsung di bawah Jembatan Suramadu sisi Surabaya, Sabtu (12/9/2020) malam. Kedua Srikandi itu adalah Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Ganis Setyaningrum.





Rapid test massal yang disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu berlangsung mendadak. Sasarannya adalah seluruh pedagang dan pengunjung yang sedang asyik nongkrong di sekitaran bawah Jembatan Suramadu.





Untuk mendukung giat itu, petugas yang terdiri dari Satpol PP, Linmas, beserta Kepolisian dan TNI menutup seluruh akses jalan di lokasi. Pedagang dan pembeli tidak diperbolehkan keluar area sebelum mengikuti rapid test dengan hasil non reaktif.





Wali Kota Risma mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 saat ini belum pulih normal. Karenanya, ia berharap kepada seluruh masyarakat bisa menahan diri tidak keluar rumah jika tidak terlalu penting. Apalagi, jika keluar rumah itu hanya untuk keperluan nongkrong dan kumpul-kumpul tanpa menerapkan physical distancing.





"Karena itu kenapa saya terpaksa lakukan seperti ini di tempat-tempat tertentu. Kita juga tidak tahu, kondisinya masih pandemi, memang tatanan new normal, tapi kan kemudian warga juga bergerombol, dan itu bahaya sekali," kata dia saat ditemui di lokasi.





Oleh karena itu, Wali Kota Risma berharap kepada masyarakat agar tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Ia tak ingin kasus Covid-19 di Surabaya terus bertambah karena kurangnya kesadaran diri masyarakat. Apalagi, saat ini hampir 70 persen kasus Covid-19 terjadi pada anak muda.





"Saya berharap sekali, warga harus bisa mencegah hal tersebut dengan mendisiplinkan diri. Karena itu saya mohon dengan hormat, terutama pada anak-anak muda. Karena data yang saya amati, hampir 70 persen dari anak muda serta anak-anak," ungkap dia.





Ratusan orang terlihat antre untuk mengikuti rapid test massal | Ist




Menurutnya, banyak anak-anak muda yang terkena Covid-19 dan kemudian sembuh. Akan tetapi, meski sudah sembuh, kondisi paru-paru mereka ada masalah. Makanya, ia khawatir jangan sampai anak-anak muda Surabaya terkena virus tersebut.





"Banyak anak muda, meski sudah sembuh, tapi saya dengar paru-parunya ada masalah. Ini yang saya khawatir, kalau anak-anak muda kan usianya masih panjang," tegas dia.





Namun demikian, wali kota perempuan pertama di Surabaya itu berharap tak hanya kepada anak-anak muda. Tapi seluruh warga dapat disiplin menjaga protokol kesehatan. Jangan sampai tujuannya mencari uang tapi kemudian merugikan diri sendiri bahkan orang lain.





"Sebetulnya saya berharap, semuanya bisa sadar, kita kan tidak bisa. Boleh saja mereka mencari uang, tapi jangan sampai merugikan orang lain karena terpapar virus. Kita butuh kesadaran kolektif (bersama)," pesan dia.





Dalam kegiatan itu, ratusan orang pun terlihat antre untuk mengikuti rapid test massal. Mereka antre secara bergiliran untuk dilakukan rapid test oleh petugas medis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya. Bahkan, kegiatan yang berlangsung hingga dini hari itu tak hanya diikuti pria. Ratusan perempuan yang sedang asyik nongkrong menikmati malam minggu juga harus ikut dalam giat tersebut.





Wali Kota Risma bersama Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Ganis Setyaningrum (kanan) saat memantau jalannya rapid test massal | Ist




Di lokasi yang sama, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Ganis Setyaningrum menegaskan, pihaknya bersama jajaran TNI siap mendukung Pemkot Surabaya dalam mengantisipasi dan menekan penyebaran Covid-19. Salah satunya adalah kegiatan rapid test massal yang berlangsung di bawah Jembatan Suramadu.





"Tentunya ini dilakukan dalam rangka untuk bagaimana mengantisipasi dan menekan angka penyebaran Covid-19," kata AKBP Ganis.





Menurut dia, alasan dipilihnya tempat ini karena memang banyak sekali anak-anak muda yang sedang asyik nongkrong di bawah Jembatan Suramadu. Apalagi, mereka kumpul-kumpul tanpa saling menjaga jarak.





"Dan ini perlu dilakukan serentak kepada semuanya. Tadi Ibu wali kota tidak hanya di sini saja. Biar semuanya warga Surabaya ini sehat," terangnya.





Bagi pengunjung maupun pedagang yang hasil rapid test reaktif, petugas langsung memberikan treatment lanjutan. Mereka kemudian diisolasi ke hotel dan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab.





AKBP Ganis menambahkan, bahwa kegiatan seperti ini akan terus berlangsung. Dengan harapan, warga Surabaya disiplin terhadap protokol kesehatan dan mata rantai penyebaran Covid-19 bisa segera diputus.





"Akan kita lakukan secara terus menerus, agar semua masyarakat Surabaya tetap sehat. Malam ini kita secara gabungan, dari Polres, Pomal (Polisi Militer), Koramil dan Satpol PP. Kurang lebih ada 110 an petugas," pungkasnya.










Laporan: A1


05/09/2020

Kepala Staf Kepresidenan Puji Penanganan Covid-19 Surabaya


Bicaraindonesia.id - Kepala Staf Kepresidenan Jendral TNI (Purn) Moeldoko memuji penanganan Covid-19 Kota Surabaya. Hal ini ia sampaikan usai mendengar paparan langsung dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di rumah dinas wali kota, Jalan Sedap Malam, Surabaya, Jumat (4/9/2020).





“Tadi testingnya sudah luar biasa, kita ikuti tadi tracingnya juga menggunakan aplikasi yang sangat baik, sehingga semuanya bisa terdeteksi. Bahkan, treatmentnya juga sudah dilakukan dengan baik. Nah, 3T itu sebenarnya memang kewajiban pemerintah,” kata Jendral TNI (Purn) Moeldoko.





Selanjutnya, kata dia, tugas dan kewajiban masyarakat adalah 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Menurutnya, jika 3M dan 3T itu berjalan dengan baik, maka dia yakin pengembangan Covid-19 bisa segera diberesi dan cepat hilang dari Indonesia. “Dan itu saya melihat sangat tergantung dari manajemen leadershipnya,” ujarnya.





Menurutnya, Wali Kota Risma sudah menjelaskan dari sisi manajemennya sudah tertata dengan bagus dan dari sisi leadershipnya sudah ada ketegasan. Salah satu contohnya ketika pasar tidak disiplin dan ditemukan ada yang positif ditutup sementara. “Ini penting agar masyarakat terbiasa dengan kehidupan yang taat asas dan disiplin,” imbuhnya.





Setelah bertemu Wali Kota Risma, Moeldoko bersama rombongannya langsung meninjau salah satu pasar tangguh di Surabaya, yaitu di Pasar Genteng. Di pasar tersebut, ia juga sempat meninjau dan mencoba menggunakan nampan yang digunakan oleh pedagang untuk melayani para pembeli.





Sementara itu, Wali Kota Risma menjelaskan, bahwa saat ini Pemkot Surabaya sudah bisa mengendalikan penyebaran Covid-19 di Kota Pahlawan. Buktinya, pertambahan kasus sudah tidak terlalu banyak dan tren kesembuhan terus meningkat setiap harinya. “Alhamdulillah sekarang kami sudah bisa mengendalikan,” kata dia.





Meski begitu, Wali Kota Risma menyatakan, keberhasilan itu tidak lepas dari berbagai upaya yang telah dilakukannya selama ini bersama jajarannya. Mulai dari membuat aplikasi untuk mengontrol data pasien Covid-19 hingga tracing yang masif dan detail.





“Jadi, melalui aplikasi ini, kami bisa mengontrol data pasien, karena seringkali ada data pasien yang muncul berkali-kali. Kemudian kita melakukan tracing detail, mulai alamatnya, kontak eratnya baik yang satu rumah maupun yang lainnya dan juga tempat kerjanya,” ungkap dia.





Selain itu, ia juga memastikan bahwa pihaknya semakin masif melakukan rapid tes dan tes swab massal gratis kepada seluruh lapisan masyarakat. Bahkan, hampir setiap hari pemkot menggelar tes swab di Gelora Pancasila. “Kita terus melakukan tes, termasuk ibu hamil yang kandungannya berusia 37 minggu dan juga semua guru SD dan SMP kita tes,” tegasnya.





Presiden UCLG ASPAC ini juga memastikan bahwa ketika dilakukan rapid tes akan langsung dites swab. Nah, sembari menunggu hasilnya, warga tersebut akan dibawa ke hotel bagi yang tidak menunjukkan gejala. Sedangkan yang menunjukkan gejala, akan langsung dilarikan ke rumah sakit.





“Yang tidak menunjukkan gejala itu kami isolasi juga di Hotel Asrama Haji. Di sana, mereka bisa berolahraga juga dan penyembuhannya di sana sangat cepat. Sudah banyak yang pulang dari sana karena sudah sembuh,” ujarnya.





Wali Kota Risma juga menjelaskan bahwa protokol kesehatan di semua komunitas terkecil diperketat, sehingga lahirlah kampung tangguh, mal tangguh, tempat ibadah tangguh dan pasar tangguh. Bahkan, demi mengetuk pintu kesadaran warga, Wali Kota Risma mengakui bahwa hampir setiap akhir pekan keliling ke kampung-kampung dan gang-gang sempit untuk sosialisasi pakai masker dan selalu menjaga protokol kesehatan.





“Alhamdulillah ini sangat berpengaruh terhadap penurunan kasus, sehingga kami relative bisa mengendalikan penularannya. Nah, setelah mereka sembuh, kami juga ajak mereka untuk senam pernafasan, sehingga kondisi mereka terus terpantau oleh pihak puskesmas,” pungkasnya.










Laporan: R1


© Copyright 2021 Bicaraindonesia.id | All Right Reserved